JAMBI – Kelangkaan beras premium semakin terasa di pasaran. Bukan hanya kemasan 5 kilogram, kemasan 10 kilogram pun kini mulai sulit ditemukan di ritel modern. Fenomena ini tak hanya terjadi di Jambi, melainkan terjadi secara nasional.
Berdasarkan pantauan dan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta Kementerian Perdagangan per 21–23 September 2026, kondisi ketersediaan beras di lapangan menunjukkan perbedaan yang mencolok antara ritel modern dan pasar tradisional.Seperti Di Ritel Modern Rak Kosong, hanya tersedia beras bulog.
Pantauan di gerai ritel modern seperti Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi di Jambi menunjukkan rak beras premium kosong. Kondisi ini sama dengan yang terlihat di wilayah Tangerang Selatan dan Jakarta.
Merek-merek beras premium yang selama ini dikenal masyarakat — seperti Sania, Fortune, Topi Koki, dan Maknyuss — baik kemasan 5 kg maupun 10 kg, tidak tersedia. Yang tersisa hanyalah Beras SPHP Bulog dan Beras BeFood Bulog kemasan 10 kg.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Johansyah Mengatakan Pantauan Di Pasar Tradisional Masih Ada, Namun Harga Melonjak. Di pasar tradisional seperti Pasar Angso Duo dan Pasar Talang Banjar, beras premium masih bisa ditemukan. Namun harganya sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Harga beras premium: Rp 17.000 – Rp 18.000 per kilogram.Sementara HET yang ditetapkan: Rp 14.900 – Rp 15.800 per kilogram.
Pedagang menyatakan pasokan diambil langsung dari penggilingan di Merangin dan Bungo, sehingga masih tersedia, namun biaya pengangkutan dan harga beli yang tinggi membuat harga jual ikut naik.
Tiga Penyebab Utama Kelangkaan
Kepala Bapanas menegaskan stok beras nasional sebenarnya aman, mencapai 4,6 hingga 5 juta ton. Kekosongan di rak bukan karena stok habis, melainkan akumulasi tiga masalah sekaligus:
1. Produsen Rugi, Berhenti Pasok
2. Harga gabah di tingkat petani kini mencapai Rp 8.000 per kilogram, jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500/kg. Jika dijual sesuai HET Rp 14.900/kg, produsen merugi Rp 600 hingga Rp 2.000 per kilogram. Akibatnya, banyak yang menghentikan penyaluran ke ritel modern.
3. Penarikan 25 Merek Beras Fortifikasi
Per 15 September 2026, Bapanas mencabut izin peredaran 25 merek beras fortifikasi yang tidak memenuhi syarat. Rak yang sebelumnya terisi produk-produk tersebut kini kosong total dan belum tergantikan.
Faktor Lokal Jambi: Air Sungai Surut, Biaya Angkut Naik
Kondisi di Jambi diperberat oleh surutnya aliran sungai. Pasokan beras dari daerah hulu tidak lagi bisa diangkut melalui jalur sungai dengan tongkang, melainkan harus dialihkan ke truk. Biaya pengiriman ikut melonjak, sehingga produsen makin enggan menyalurkan ke ritel dengan harga ketetapan.
Johansyah Mengatakan Bulog Ditugaskan Penuhi Kekosongan. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Amran Sulaiman, telah memerintahkan Bulog untuk menyalurkan 300.000 ton beras — yang dapat disalurkan hingga tiga kali lipat — guna mengisi kekosongan di ritel modern.
Untuk wilayah Jambi, Bulog telah mendapat alokasi 110.000 ton, di mana 75.000 ton di antaranya berupa beras premium merek BeFood dengan harga jual Rp 74.500 untuk kemasan 5 kg, yang akan didistribusikan ke 10 jaringan ritel di seluruh Jambi.
“Kami memantau terus ketersediaan dan harga pangan di lapangan. Masyarakat diminta tenang, stok nasional aman. Yang sedang dikejar adalah penyaluran agar kembali lancar ke rak-rak toko.”pungkasnya. (*)










